Oleh: Dina Noviana

Sepertinya aku memang jatuh cinta padanya tanpa kusadari. Cinta yang kusadari setelah dia pergi. Sudah terlambat. Kita tidak pernah tahu bahwa ada rasa yang sering disebut ‘cinta’ oleh orang-orang sebelum kehilangan dia, orang yang dicintai. Benar-benar kehilangan dia.

Dulu sekali, saat masih SMA, aku merasa bahwa aku telah jatuh cinta kepada salah seorang teman lelakiku. Kami memang tidak sekelas, namun aku akrab dengannya sejak disatukan dalam satu kelompok saat orientasi siswa baru. Aku pikir rasa itu adalah cinta karena aku merasa senang ketika bersamanya dan merasa kesal jika ada perempuan lain yang suka pura-pura bodoh agar diajari olehnya atau hal lainnya yang membuat perempuan itu bisa dekat dengannya. Caper alias cari perhatian istilahnya saat itu.

Maklum saja, dia memang termasuk jajaran anak pintar di sekolah dengan tampang yang tidak bisa dibilang biasa. Namun, rasa yang kuklaim ‘cinta’ itu hanya bertahan satu tahun setelah ia memutuskan pindah sekolah karena ayahnya dipindahtugaskan kerja ke luar kota. Setelah dia pergi, aku hanya merasa sedih beberapa hari dan kemudian kembali seperti biasa lagi. Wajar, namanya anak baru gede yang masih labil. Sampai sekarang aku lost contact dengannya karena dulu hanya anak-anak kaya yang sudah punya handphone. Itu pun yang hitam putih atau paling bagus sudah berwarna namun belum berkamera. Aku pun tidak berpikiran untuk meminta kontak orang tuanya. Rupanya, saat itu aku salah menerjemahkan ‘cinta’ itu

Sekarang pun masih sama. Aku belum memahami cinta itu seperti apa. Kata orang-orang, saat kita jatuh cinta ke orang lain rasanya seperti ada kupu-kupu yang terbang di dalam perut. Aneh, pikirku. Aku tak bisa membayangkannya. Kupu-kupu tebang di dalam perut? Tidak masuk akal. Aku tidak bisa menerima itu. Apakah aku aneh? Di usia 25 tahun belum pernah jatuh cinta? Menurutku tidak. Kedua orang tuaku mulai khawatir. Maklum saja, wanita di usia 25 tahun belum merencanakan pernikahan atau paling tidak mempunyai pasangan sudah menimbulkan banyak pertanyaan. Bahkan parahnya lagi, ibuku khawatir aku suka ke sesama perempuan seperti isi berita saat ini sedang maraknya isu LGBT. Oh tidak! Aku masih suka dan tertarik kepada lawan jenis. Aku tertarik saat melihat lelaki berwajah tampan dan baik hati, aku juga tertarik kepada lelaki yang memiliki suara yang indah ketika bernyanyi. Tapi aku hanya sekedar tertarik saja. Belum ada yang benar-benar membuatku merasa ‘berbeda’.

****

Pagi ini aku hampir terlambat kerja akibat ban motorku bocor ketika sampai di tikungan gang rumahku. Paling gak masih dekat rumah jadi aku bisa kembali pulang menyimpan motor dan naik angkot yang sesak dengan anak sekolahan. Sebagian besar penumpang angkot yang kutumpangi adalah pelajar berseragam SMA dan SMP. Angkot adalah kendaraan favorit pelajar karena mereka hanya perlu membayar setengah dari harga normal. Enak di mereka tapi kadang nyesek di sopir. Aku yakin, jika bisa memilih pasti mereka memilih penumpang biasa yang memabayar dengan tarif normal.

“Pagi Cici….,” sapa Dion, rekan kerjaku ketika aku baru saja menempelkan bokongku di kursiku. Meja kerjaku bersebelahan dengannya.

“Pagi juga,” balasku singkat sambil tersengal-sengal.

“Kamu kok kayak habis lari marathon gitu? Lihat tuh keringat di jidatmu sudah sebesar biji jagung,” katanya sambal menyodorkan tisu.

“Iya nih, marathon dari rumah,” kataku sambil nyengir. Aku terlalu malas menjelaskan perjuanganku untuk sampai ke kantor. Dion hanya geleng-geleng dan kembali menatap layar komputer di hadapannya.

Aku menyalakan komputer dan mengambil draft buku yang belum selesai kuedit. Aku bekerja sebagai editor buku di salah satu penerbit. Meskipun berbeda dengan background kuliahku, tapi aku menikmatinya karena menulis adalah hobiku. Asal jangan disuruh menulis buku pelajaran saja. Aku tidak pandai belajar. Gaji yang kuperoleh juga sedikit di atas UMR dan orang tuaku tidak mempermasalahkannya selama apa yang kuperoleh itu halal. Saat ini aku sedang mengedit novel hasil sayembara yag dilakukan penerbit tempatku bekerja. Setahun sekali memang kami mengadakan hal seperti ini untuk mencari penulis-penulis muda berbakat.

“Ci, gimana progressnya? Udah sampai mana? Minggu ini udah harus masuk ke bagian layout,” pak Joni, atasanku datang menghampiriku menanyakan progress novel yang sedang kuedit.

“Eh iya Pak, ini sudah di bab epilog. Hari ini atau besok sudah selesai kok,” jawabku sambal menunjukan pekerjaanku.

“Bagus-bagus,” ujarnya sambil berjalan pergi menghampiri Dion.

“Desain sampulnya bagaimana?” tanya pak Joni kepada Dion. Pak Joni dan Dion lebih banyak membahas penempatan gambar, bentuk tulisan dan lainnya yang berhubungan dengan desain sampul novel. Aku tidak begitu mengerti tentang desain. Aku hanya bisa mengoperasikan corel draw, itupun hanya bentuk-bentuk dasar dan sama sekali tidak menarik.

Jam istirahat pun tiba. Perutku sudah memberontak minta diisi. Apalagi aku memang doyan makan. Beruntung di kantor ada kantinnya, jadi kami tidak perlu repot memesan makanan dari luar atau makan di luar. Aku makan siang bersama Dion dan Rani, sahabatku sejak kuliah. Dia di bagian periklanan. Rani bekerja sesuai dengan kuliahnya dulu. Aku lebih dulu kerja di sini kemudian ketika ada lowongan yang cocok untuknya, aku segera menginformasikan kepadanya. Dan jadilah kami sekantor.

“Eh Ci gimana? Jadi udah jatuh cinta belum?” tanya Rani tiba-tiba.

“Ya belom lah, nemu yang bikin tertarik aja belom,” jawabku setelah menyeruput es teh yang super menyegarkan di siang hari yang panas ini.

“Sama aku aja kalo gitu,” Dion tiba-tiba datang sambil membawa es degan dengan sesekali meyeruputnya.

“Eh, minum kok berdiri, sambil jalan pula,” tegurku.

“Tau tuh,” sahut Rani.

“Iya-iya maap. Betewe Ci, serius kamu belum pernah jatuh cinta?” tanya Dion, ikut-ikutan Rina.

“Kamu tuh ikut-ikutan aja. Mending kamu habisin sotonya sebelum dingin,” ujarku mengingatkan.

“Iya nih, si princess kita ini belum pernah jatuh cinta dan sekarang dia diteror pertanyaan kapan nikah setelah keduluan si Cantika, adiknya,” Rina menjawab pertanyaan Dion yang diajukan kepadaku. Mungkin dia tahu aku malas menjawab pertanyaan itu.

“Emang adikmu umur berapa? Kok udah mau nikah aja? Ya udah jatuh cinta sama aku aja. Aku kurangnya apa sih?” tanyanya lagi.

“Beda setahun sama aku, dia 24. Ya karena udah ketemu sama jodohnya lah. Sama kamu? Enggak deh, si Mira mau dikemanain? Kenapa? Kamu mau belajar jadi playboy nih?” tanyaku balik. Dion suka seenaknya ngomong, kayak dia belum punya pasangan saja.

“Hahahaha, bercanda. Bisa babak belur aku di hajar Mira,” ujarnya sambal bergidik. Aku sedikit mengenal Mira karena dulu kami sempat berada di departemen yang sama saat bekerja sebelum dia memutuskan untuk berhenti.

Kami segera menyelesaikan makan dan kembali ke ruangan masing-masing sebelum kena tegur pak Joni karena telat akibat keasyikan ngobrol. Beberapa kali kami kena tegur karena telat. Marahnya pak Joni tidak meledak-ledak tapi cukup menyeramkan. Suaranya tetap seperti biasa tapi penekanannya yang berbeda.

*****

Persiapan pernikahan Tika, nama panggilan adikku sudah hampir rampung, tinggal menata kursi saja. Besok adalah hari pernikahannya. Mendadak rumah kami seperti taman bunga. Aroma bunga mawar tersebar hampir di seluruh ruangan, termasuk kamarku. Dekorasi dengan menggunakan bunga mawar asli adalah kemauan Tika yang memang penyuka bunga mawar warna apa pun itu. Tapi favoritnya berwarna putih. Menurutnya, warna putih melambangkan kelembutan dan ketulusan.

Malam ini kami diharuskan tidur awal karena harus bangun Subuh untuk dirias. Sedikit malas sih, tapi mau gimana lagi. Tika akan menggunakan gaun brokat semi kebaya berwarna putih gading untuk akad dan gaun sejenis berwarna biru pastel saat resepsi. Kami, anggota keluarga menggunakan baju seragam berwarna senada. Aku minta dirias dengan natural, tidak mau berlebihan. Aku tidak mau ribet saat membersikannya nanti.

Akad nikah berlangsung pada pukul 8 pagi dan berjalan dengan khidmat. Entah kenapa aku merasa terharu saat Ahmad mengucapkan janji yang disaksikan oleh penghulu dan tamu undangan. Aku juga melihat ada tetesan air mata bahagia yang jatuh dari mata Tika dan kedua orangtuaku. Tika bukan lagi milik kami, tanggung jawab terhadap dirinya pindah ke tangan suaminya.

Resepsi diadakan pas setelah akad nikah agar tidak membuang waktu tamu undangan yang mungkin mempunyai kepentingan lain dan agar bisa beristirahat sesegara mungkin. Pertanyaan yang tidak bisa kuhindari dan sudah kupastikan akan terlontar, entah dari siapa pun itu adalah kapan aku menikah. Tiap ada yang tanya aku sudah kebal dan pertanyaan itu mental. Masuk telinga kanan, keluar dari telinga kiri. Bukan aku yang menunda tapi memang belum dipertemukan sama jodohnya jadi mau gimana lagi. Sudah cukup lama aku berdiri dan sudah bosan juga ditanyai kapan menikah, aku memilih duduk di pojok sambil memakan kue yang kuambil sebelum duduk.

“Maaf Mbak, kursi ini kosong?” tanya seorang laki-laki yang muncul entah darimana. Aku tidak menyadari kedatangannya karena asyik makan. Tapi, kenapa juga dia mau duduk di sampingku.

“Eh, iya gak ada. Silahkan, Mas,” jawabku setelah melihat ke sekeliling dan melihat bahwa semua kursi sudah terisi penuh.

“Mbak keluarganya Cantika?” dia membuka obrolan.

“Iya, kok tahu?” tanyaku sedikit heran darimana dia tahu aku keluarganya Tika.

“Tuh baju Mbak seragaman sama yang sana,” jawabnya sambil menunjuk ke arah pelaminan.

Bodoh. Aku lupa kami pakai baju senada. Ini salah satu kebiasaan burukku. Pelupa. Kami bercerita banyak hal. Namanya Dimas. Dia atasan Tika di kantor dan datang sendirian. Sebenarnya aku gak butuh informasi itu dan tidak tahu kenapa dia dengan sukarela menginformasikannya. Dia pamit pulang duluan sebelum acara berakhir karena ada hal yang harus dikerjakannya. Secara fisik sih lumayan dan sepertinya dia baik, ramah dan supel. Aku menyimpulkan itu setelah berbincang dengannya kurang lebih setengah jam an.

*****

Setelah menikah, Tika tinggal di rumah mertuanya untuk sementara. Mungkin sekitar setahunan sampai menemukan rumah kontrakan yang sesuai atau bahkan bisa menemukan rumah dengan uang muka dan cicilan ringan. Aku yakin Tika akan kangen berat padaku karena kami benar-benar akrab. Seperti saudara kembar, bukan kakak-beradik. Wajar saja, jarak usia kami hanya setahun. Seperti malam ini, Tika menelpon hanya untuk menanyak kabar dan hal lainnya. Dia rindu katanya. Bukan cuma itu, Tika menceritakan tentang atasannya yang masih muda dan sedang mencari istri. Aku curiga ada maksud tersembunyi.

“Jadi gimana Kak? Atasanku masing single loohhhh…. Tenang, usianya cuma beda 3 tahun-an kayaknya sama kakak. Aku juga udah cerita tentang kakak ke dia. Malah katanya udah pernah ketemu kakak pas aku nunjukin foto kakak. Kalo mau nanti kuperkenalkan deh,” katanya dengan semangat.

“Eh, kamu nih suka seenaknya. Mbok ya bilang kakak dulu. Mana nunjukin foto kakak segala. Emang kakak setua apa sih sampe digituin. Kita loh cuma beda setahun. Kakak belum tua-tua amat kali. Lagian ketemu di mana? Kakak aja gak pernah ke kantormu apalagi sampe kenalan sama orang kantormu,” ujarku sewot. Aku berasa perawan tua, padahal kan aku baru 25 tahun.

“Yah, aku lupa nanya di mana dia ketemu kakak. Nanti deh ku kirimin ke WA kakak fotonya. Yaudah ya kak nanti lagi ku telponnya. Bye,” katanya sebelum menutup telepon.

Tidak lama kemudian dia mengirimkan foto orang yang dimaksudnya. Aku segera membuka pesan tersebut dan ternyata orang yang dimaksud adalah orang yang dulu ketemu saat pernikahan Tika. Tidak buruk menurutku.

“Kalo menurutmu dia baik dan cocok, bolehlah. Soalnya kan Kakak belum kenal dia, tapi Kakak tidak janji cocok loh ya,” aku membalas pesan wa Tika dan beranjak tidur.

Tentang perkenalan itu, kami -aku dan Tika- sepakat untuk bertemu dan berkenalan dengan Dimas sore ini di sebuah kafe. Aku tidak mau sendirian, Tika harus menemaniku. Kalau tidak, aku mengancam menolak berkenalan lagi dengan Dimas dan dia menurutiku. Ternyata meskipun dia sudah menikah, dia masih patuh kepadaku, kakaknya. Dimas datang lebih dulu ketimbang kami dan dia sudah memesankan minum. Ketika kami duduk, seorang pramusaji datang dan membawa 2 gelas minuman. Greentea latte untukku dan lemon tea untuk Tika. Pasti Tika yang memberi tahu kepadanya bahwa aku suka greentea.

“Gimana perjalanannya? Macet gak?” tanyanya membuka obrolan. Dia lah yang selalu duluan membuka pembicaraan. Dulu saat di pernikahan Tika dan sekarang.

“Lancar kok, gak juga. Rame tapi masih bisa motoran normal,” jawab Tika.

“Eh mas, ini kak Cici. Udah pernah kenalan kan mas? Nama aslinya sih Sisilia Putri,” sambungnya memperkenalkanku.

“Eh iya udah kok dulu. Hai Ci, apa kabar? Gimana pekerjaanmu? Lancar?” tanya Dimas kepadaku.

“Baik kok. Lancar-lancar saja. Ya meskipun akhir-akhir ini sering lembur dikejar deadline sih,” jawabku.

Entah kenapa aku merasa sedikit gugup. Aneh. Aku mengambil dan menyeruput minumanku yang mungkin bisa membantu menghilangkan rasa gugup ini. Obrolan kami berlanjut, kami banyak membahas tentang ketertarikan masing-masing seperti hobi atau isu terkini misalnya. Untung saja Tika orang yang pandai mencairkan suasana jadi suasana sore ini tidak canggung. Kami memutuskan pulang sebelum maghrib dan tidak lupa bertukar nomor ponsel.

Setelah pertemuan itu, kami berteman baik. Mas Dimas beberapa kali datang ke rumah karena aku juga tidak mau pergi berdua. Pun kalau pergi pasti bertiga dengan Tika atau bahkan berempat karena Tika mengajak suaminya. Ini sudah bulan keempat sejak perkenalan dan aku sudah cukup bosan ditanyain Tika apakah sudah jatuh cinta belum sama dia. Jujur aku tertarik, tapi sepertinya itu belum bisa disebut cinta. Aku memanggilnya dengan sebutan Mas karena memang dia terpaut 3 tahun di atasku.

Dilihat dari gerak-gerik Mas Dimas sepertinya dia respect kepadaku dan menghormatiku sebagai perempuan. Jangankan menyentuh, mengajakku keluar berdua saja tidak pernah. Itu yang membuatku memutuskan untuk tetap dekat dengannya. Sudah cukup banyak hal yang kutahu tentangnya. Dia kebalikanku. Aku tidak suka pedas, dia sebaliknya. Aku suka yang manis-manis, dia sebaliknya.

“Jadi gimana?” tanya Mas Dimas. Malam ini, Mas Dimas datang berkunjung ke rumahku. Orang tuaku sudah mengenal Mas Dimas.

“Maksudnya?” tanyaku balik. Sebenarnya aku tahu maksudnya. Tapi aku pura-pura saja.

“Kamu kan tahu dari awal aku mencari calon pasangan yang mau menikah denganku,” jawabnya. Aku bingung harus menjawab apa. Aku senang kenal dia. Aku suka sifatnya yang menghargai perempuan. Kata dia, menghormati perempuan itu sama saja dengan menghormati ibunya sendiri.

“Iya aku tahu, aku pun seperti itu. Tapi aku tidak bisa bohong bilang sudah ada rasa. Tapi jujur aku senang kenal mas,” aku tidak mau berhohong tapi juga tidak bisa mengatakan kalua tidak ada rasa sama Mas Dimas. Aku bingung menerjemahkan apa yang kurasakan kepadanya.

“Aku keterima beasiswa S2 ke Inggris. 2 bulan lagi aku berangkat. Sebenarnya aku ingin menikah sebelum berangkat dan mengajak istriku ke sana. Dan aku inginnya kamu yang menjadi istriku,” katanya serius sambil menatapku dan aku hanya diam. Bingung mau jawab apa. Bahkan sampai dia pamit pulang pun, tidak ada jawaban yang dia dapatkan dariku.

****

Setelah kejadian itu, dia jarang menghubungiku. Entah sibuk mempersiapkan keberangkatannya atau karena menghindariku. Dia juga tidak bilang kapan pastinya berangkat. Aku mulai merasa kosong. Aku menemukan surat di atas meja ruang tamu yang ditujukan untukku tapi tanpa mengirim. Aku membaca surat itu ketika sampai di kantor. Dan itu dari dia. Dia sudah pergi. Benar-benar pergi. Bahkan tidak berpamitan padaku. Aku marah, kesal, sedih dan juga menyesal. Sangat menyesal. Dia pergi meninggalkanku. Sepertinya aku memang jatuh cinta padanya tanpa kusadari. Cinta yang kusadari setelah dia pergi. Sudah terlambat. Kita tidak pernah tahu bahwa ada rasa yang sering disebut ‘cinta’ oleh orang-orang sebelum kehilangan dia, orang yang dicintai. Benar-benar kehilangan dia. Aku hanya berharap hatinya tidak berubah ketika pulang nanti. Aku mau menunggunya.

****

Ci, aku pergi ya. Maaf gak pamit, aku sempat kerumahmu tapi kamunya tidak ada. Aku cuma 2 tahun kok perginya. Nanti saat aku pulang aku harap bisa berjodoh sama kamu. Itu pun kalau kamu mau nunggu aku.

 

 

 

With love,

Dimas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *