Oleh: Dina Noviana

Sepatu tidak pernah berjalan sendirian. Dia sepasang. Begitupun tepuk tangan. Butuh kedua tangan untuk dikatakan tepuk tangan dan menghasilkan sebuah suara. Lantas, bagaimana dengan cinta? Butuh dua hati yang merasakan untuk bisa dikatakan cinta. Cinta sepihak? Itu sia-sia dan bodoh.

Senja semakin larut. Warna keemasan langit perlahan menghilang dan matahari kembali keperaduannya. Cahaya telah tergantikan gelapnya malam. Aku selalu suka senja, menenangkan. Menikmati senja tidak pernah melelahkan dan membosankan untukku yang memang penikmat senja. Sama seperti namaku, Senja Karisa Putri. Kata mamah, yang memeberi nama ‘Senja’ untukku adalah papah yang lebih dulu meninggalkan kami ketika aku baru saja lulus kuliah tahun kemarin. Mamah bukan penikmat senja sepertiku dan papah. Tapi, mamah selalu menyiapkan 2 gelas teh panas untuk kami-aku dan papah- sembari menikmati senja yang perlahan hilang. Papah sengaja membuat rumah 2 lantai yang tidak jauh dari pantai sehingga bisa menikmati senja dari balkon di lantai 2. Hingga sekarang, aku masih suka menikmati senja meskipun seorang diri. Tapi terkadang mamah juga ikut menikmati senja bersamaku. Senja selalu membuatku merasa bahwa papah selalu berada disampingku. Di saat senja pula aku suka bercerita, menuangkan keluh kesahku disebuah notebook berwarna gradasi jingga, merah dan kuning. Mirip dengan warna senja. Sama seperti saat ini.

Ketika disuruh melepaskan sesuatu yang sudah lama digenggam erat, rasanya sangat berat. Aku sepertinya tidak sanggup melakukannya. Tapi, bukan kah ini jauh lebih baik daripada terus seperti ini. Tidak ada kejelasan. Meyesakkan. Melelahkan. Sepatu tidak pernah berjalan sendirian. Dia sepasang. Begitupun tepuk tangan. Butuh kedua tangan untuk dikatakan tepuk tangan dan menghasilkan sebuah suara. Lantas, bagaimana dengan cinta? Butuh dua hati yang merasakan untuk bisa dikatakan cinta. Cinta sepihak? Itu sia-sia dan bodoh. Aku sudah terlalu lelah dengan semua ini. Sosoknya yang kerap kali hadir dalam mimpiku begitu nyata. Lantas bagaimana aku bisa membedakan mimpi dan kenyataan? Sedang dia kerap kali hadir di keduanya.

*****

Aku selalu merasa tidak adil saat dia datang dalam mimpiku dan memberikanku harapan-harapan. Harapan tentang pernikahan yang sering dia ucapkan di dunia nyata. Bukan kepadaku. Dalam mimpi yang kami adalah tokoh utamanya, dia berjalan dari kejauhan sambil tersenyum. Mendekatiku, kemudian menyematkan sebuah cincin dengan batu permata. Sangat indah. Demi segala apapun yang ada didunia, aku berharap itu nyata. Bukan sekedar mimpi yang melipat gandakan harapan menyakitkan itu. Sosoknya perlahan menjadi siluet dan menghilang di ujung jalan ketika pagi hampir tiba. Menyeretku kembali ke dunia nyata, dimana aku harus berhadapan dengannya yang penuh dengan bualan harapan menikah dengan wanita lain.

Dihadapannya, aku selalu mengukir senyum. Tidak berniat menunjukan sisi rapuh yang kumiliki. Cukup aku sendiri yang tahu. Bertahun mencintainya, tidak membuatku berani untuk mengungkapkannya. Aku memang pengecut. Terlebih aku tahu bahwa dia jatuh hati kepada kakak ku, orang yang lebih dulu mengenalmu. Dia adalah teman kuliah mba Jena, kakak ku yang terpaut 2 tahun di atasku. Pertama kali melihatnya saat mba Jena bersama teman-temannya mengerjakan tugas dirumah. Saat itu, aku di mintai tolong untuk menyiapkan minuman dan cemilan untuk mereka. Ketika aku mengantarkan pesanan mba Jena, dia sedang menjelaskan sesuatu yang tidak bisa ku mengerti kepada yang lain. Terlihat mempesona dimataku. Aku yang tidak melepas pandangan kepadanya, membuatku tidak sengaja menginjak buku dan terpeleset hingga menjatuhkan minuman dan cemilan yang kubawa. Untung saja minuman kaleng jadi tidak membuat kekacauan. Mba Jena menegurku, namun pria itu hanya tersenyum. Nyaris tertawa sebenarnya. Mungkin karena posisi jatuhku yang cukup memalukan.

Setelah kejadian itu, beberapa kali aku bertemu dengannya saat datang kerumah untuk bertemu dengan mba Jena. Entah untuk meminjam buku atau mengajak mba Jena keluar. Aku pun tahu namanya ketika memberanikan diri menyapanya dan berbasa-basi sambil menunggu mba Jena. Namanya Angga Saputra. Dan aku memanggilnya dengan sebutan mas Angga. Kala itu, aku yang masih SMA menganggap rasa sukaku hanya sekedar cinta monyet, namun cinta monyet itu terus berlanjut hingga sekarang. Sudah 4 tahun sepertinya. Aku pun mengetahui semua akun sosial medianya, bahkan kami-aku dan dia- saling mengikuti di Instagram. Dari situ, aku sedikit banyak tahu apa yang disukainya, apa yang dilakukannya dan siapa yang dicintainya. Dari semua postingan dengan berbagai caption, ciri-ciri orang yang cintainya semua dimiliki mba Jena. Entah mba Jena nya yang tidak peka, tidak peduli atau memang tidak ada rasa, belum ada tanda-tanda bahwa mereka akan bersama. Aku tidak rela. Aku yakin rasa yang ku miliki jauh lebih besar ketimbang rasa mas Angga ke mba Jena.

Sepertinya mas Angga mulai lelah dengan perasaanya. Ia menyerah. Memutuskan menggandeng gadis lain. Aku mengetahui hal ini dari sosial media. Status hubungan di akun facebook nya berubah menjadi ‘in a relationship’ dengan seorang wanita yang tidak ku kenali. Mas Angga menganti foto profil di akun instgramnya menjadi foto berdua dengan seorang gadis berambut sebahu, berkulit bersih dan memiliki lesung pipi saat tersenyum. Manis. Bahkan aku yang seorang gadis pun mengakui bahwa gadis itu cantik. Ingin rasanya aku berteriak mengatakan bahwa aku selalu mencintai dan ingin bisa berada disisinya. Tapi sekali lagi, aku terlalu pengecut. Mas Angga tidak pernah menunjukan kemesraannya secara langsung di sosial media. Paling hanya sebatas foto bunga atau gambar lainnya dengan caption yang menyebutkan akun sang kekasih. Itupun tidak sering. Aku memutuskan untuk tidak lagi mengikuti mas Angga. Terlalu menyakitkan.

Sejak memiliki kekasih, mas Angga tidak lagi sering main kerumah. Ini sudah 6 bulan sejak mas Angga menjalin hubungan dengan gadis yang sampai sekarang tidak ku ketahui nama aslinya. Beberapa kali aku mendapati mba Jena melamun di balkon rumah atau terkadang ikut menikmati senja bersamaku. Padahal mba Jena tidak pernah melakukan hal ini sebelumnya. Seperti sore ini, aku mencoba bertanya apa yang dipikirkannya.

“Mba kenapa?,” tanyaku selembut mungkin. Mba jena hanya menggeleng perlahan. Matanya menyiratkan kesedihan.

“Mba bisa cerita sama aku kalo mau,” aku berusaha meyakinkan mba Jena. Dia bukan mba Jena yang ku kenal. Mba Jena yang ku kenal itu orang yang suka bercerita apa yang dirasakannya. Bahkan terkesan sangat blak-blak an.

“Mba terlambat. Dia sudah bersama orang lain. Mba baru merasa kehilangan ketika dia benar-benar tidak lagi dijangkauan mba,” mba Jena memulai ceritanya. Aku ingin berteriak saat itu juga. Aku tahu siapa yang dimaksud mba Jena. Aku bukan peramal. Tapi aku tahu persis siapa itu.

“Maksud mba mas Angga?,” tanyaku hati-hati. Mba Jena mengangguk. Ternyata mba Jena juga memiki perasaan yang sama denganku. Aku hanya diam. Tidak tahu harus berkata apa. Kami-mba Jena dan aku- pada akhirnya hanya sang diam. Menikmati sisa senja dalam diam.

“Mba,” seruku saat mba Jena beranjak masuk. Mba Jena menghentikan langkahnya dan berbalik menghadapku.

“Aku rasa, mba harus ngomong ke mas Angga,” kalimat yang dengan berat hati harus terucap.

“Makasih ya Senja. Sore ini mba tahu kenapa kamu dan Papah menyujai senja,” Kata mba Jena sambil tersenyum dan melangkah masuk.

Mereka saling mencintai. Apa aku boleh membuat mas Angga menjadi milikku? Hanya untukku? Sekali saja, bolehkan aku tidak mengalah. Bolehkah aku egois untuk menjadikan mas Angga bersamaku, apapun caranya. Tapi aku akan menjadi duri dalam daging. Memikirkan ini membuatku serasa menelan pil pahit tanpa air minum. Menyisakan kepahitan di lidah. Hingga akhirnya aku memutuskan masuk kekamar dan menghabiskan malam, berusaha untuk tidak memikirkan kejadian tadi.

****

Hari ini mba Jena terlihat riang. Mba Jena yang lama telah kembali. Mas Angga juga tiba-tiba kembali mengunjungi rumah pagi ini. Mau mengantar mba Jena kerja katanya. Hatiku belum siap. Apakah mereka memutuskan untuk bersama? Aku memutuskan kembali mengikuti mas Angga dan melihat postingan yang sudah berbulan-bulan tidak kulihat. Foto profilnya berubah! Sejak kapan? Aku melihat postingan lama mas Angga. Semua yang berhubungan dengan kekasihnya sudah tidak ada. Semuanya sudah di hapus. Sepertinya memang benar mas Angga sudah tidak lagi bersama kekasihnya yang dulu. Tapi sejak kapan?

Sepulang kerja, mba Jena kembali di antar oleh mas Angga. Aku melihatnya saat sedang menyapu teras rumah dan aku memberankan diri untuk bertanya ketika mba Jena masuk kerumah.

“Loh mba, sejak kapan?,” tanyaku sehati-hati mungkin, berusaha dengan nada biasa saja agar tidak mencurigakan.

“Apanya?,” mba Jena balik bertanya.

“Oalah, mas Angga ta?,’ sambung mba Jena sebelum aku membuka mulut.

“Rahasia” Jawabnya sambil melangkah pergi meninggalkan aku yang masih diam, berusaha mencerna semuanya. Merangkai peristiwa hari ini, mba Jena yang kembali tersenyum, mas Angga yang rela menjemput dan mengantar pulang mba Jena meskipun yang aku tahu jarak antara kantor tempat kerja mba Jena dan mas Angga cukup jauh dan raut wajah mereka tadi ketika bersama. Hanya satu jawaban yang terlintas dan tidak mau ku akui.

Usia mba Jena sudah pantas untuk menikah, mamah seringkali menanyakan hal itu dan mba Jena hanya diam, belum bisa memberikan jawaban. Namun hari ini mba Jena memberikan jawaban atas pertanyaan mamah selama ini. Mas Angga berniat meminang mba Jena. Mba Jena bercerita kepada kami tentang semuanya termasuk hubungan mas Angga sebelumnya yang hanya berjalan 3 bulan. Gadis itu hanya pelarian dari mba Jena yang tidak kunjung peka dan mas Angga pun ternyata hanya pelarian bagi gadis tersebut. Mereka impas, satu sama.

“Selamat ya kak,” kataku sebelum melangkah pergi.

“Iya. Makasih juga, ini semua berkat kamu juga yang membuat aku memberanikan diri untuk mengatakan isi hatiku kepadanya” Ujar mba Jena sambil tersenyum. Aku merutuki keputusanku saat itu. Mungkin jika aku yang mengatakannya, bisa jadi aku yang berada di posisi mba Jena saat ini. Aku yang menjadi milik mas Angga dan mas Angga menjadi milikku.

****

Aku masih belum siap menerima kenyataan itu. Mamah senang mendengar hal tersebut karena pada akhirnya mba Jena, anak sulung mamah dan papah akan mengakhiri masa lajangnya. Mba Jena bahagia karena bisa bersama orang yang di kasihinya. Sedang aku. Hanya aku yang merana. Terluka dan sakit. Hanya aku sendirian yang merasakan sakit ini. Paling tidak, aku tidak membuat hai siapapun terluka. Hanya hatiku yang tergerus setelah sekian lama. Aku menutup mataku berusaha menerima semua ini. Tapi terlalu berat untukku.

Dan disinilah aku sekarang. Liburan semester membuatku bisa berpergian. Aku bersikeras pergi liburan di saat mba Jena dan dia sibuk menyiapkan pernikahan. Aku memutuskan untuk ke bali menikmati senja yang beberapa minggu ini tidak lagi menarik untukku sejak malam itu. Mencoba menerima kenyataan. Menata kembali hatiku yang telah hancur berkeping-keping meskipun aku tahu ini tidak mudah. Sangat tidak mudah. Paling tidak meskipun aku belum bisa menghilangkannya dari pikiran dan hidupku, bisa membuatku tersenyum di hari pernikahan mereka. Senyum dengan hati yang teriris.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *